LANGKAH CANTIK PERMAINAN CATUR POLITIK JOKOWI DALAM KASUS AHOK

Jakarta, DoyanBaca.com – Presiden Jokowi membawa lawan-lawannya dalam sebuah permainan catur politik. Keputusan POLRI untuk menjadikan Gubernur non-aktif Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama sebagai tersangka atas kasus penistaan agama merupakan sebuah risiko yang telah diperhitungkan yaitu dengan menetapkan tingkat kejahatan untuk mengamankan keuntungan politik yang lebih besar.

Di sisi lain, Jokowi tidak akan pernah membiarkan Ahok, temannya, tenggelam.

Sejak belasan kelompok Muslim konservatif melaporkan Ahok ke polisi pada bulan Oktober, menuduhnya atas penistaan agama, sebuah pergerakan yang menuntut supaya Ahok diproses secara hukum menyuarakan dengan lebih keras dan lebih besar, yang berpuncak pada kekerasan 4 November dengan berunjuk rasa di depan Istana Negara dan memicu kerusuhan kecil di daerah Jakarta Utara.

Meskipun Jokowi percaya adanya “aktor politik” yang menunggangi demo dan kerusuhan tersebut, tekanan supaya Ahok dituntut atau bahkan dipenjara karena kasus penistaan agama, oleh banyak kelompok (termasuk serikat buruh) berencana melakukan demo besar-besaran pada 25 November jika tuntutan mereka diabaikan.

Jokowi dan beberapa orang di pemerintahan memiliki kekhawatiran bahwa demo sebelumnya dan yang akan datang tidak hanya tentang Ahok tetapi juga tentang upaya untuk memaksa Presiden memenuhi sesuai tuntutan.

Beberapa mungkin menyebutnya sebagai “kudeta mini”, tapi itu sebenarnya hanyalah tekanan oleh beberapa politisi (termasuk dari partai politik dalam yang berkoalisi bersama dengan Jokowi), pejabat negara, tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama dan aktivis yang telah kelaparan “sumber daya” sejak Jokowi menjabat pada tahun 2014.

Gerakan ini entah bagaimana telah menarik sekelompok Muslim konservatif naif, sehingga menciptakan efek bola salju yang jika tidak segera ditindak lanjuti memiliki potensi untuk memicu konflik yang dapat menjatuhkan citra baik presiden.

Menyadari besarnya skala gerakan tersebut, Jokowi segera mengkonsolidasikan kekuasaannya dengan melakukan safari mengunjungi Mabes TNI, pasukan khusus dan POLRI serta dengan menemui pemimpin organisasi Muslim dan partai-partai Islam di koalisinya.

Mungkin safari Jokowi ini tidak hanya ditujukan untuk menempa “komunikasi yang lebih baik”, tetapi juga pada sinyal dari Presiden bahwa upaya inkonstitusional yang berniat mengguncang pemerintahan yang sah dan menghancurkan kesatuan bangsa tidak akan ditoleransi.

Panggilan untuk penuntutan Ahok ini terus berlanjut, Jokowi tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan POLRI untuk menjadikan Ahok sebagai tersangka dan kemudian mengatakan kepadanya untuk bergantung pada tepi tebing sementara Presiden mengeluarkan musuhnya satu per satu sebelum datang kembali untuk menyelamatkannya.

Mungkin naif jika berpikir bahwa POLRI, lembaga di bawah naungan Presiden, membuat keputusan tanpa menerima persetujuan dari Jokowi yang mungkin telah menginstruksikan sebuah keputusan yang harus dibuat untuk memberinya keunggulan.

Pertama, keputusan akan menenangkan Muslim konservatif dan mungkin menghalangi mereka dari menghadang jalan-jalan pada demo lainnya. Seorang korban yang tidak diinginkan dari demo, seperti seorang demonstran tewas, akan mendatangkan malapetaka pada keamanan di Ibukota dimana pengunjuk rasa akan marah dan melakukan kekerasan sebagai pembalasan atas mujahidin mereka yang jatuh.

Kedua, setelah tuntutan dari Muslim konservatif supaya Ahok dijadikan sebagai tersangka telah dipenuhi, polisi tidak akan lagi ragu-ragu untuk mengambil tindakan tegas terhadap tokoh agama dan aktivis, serta terhadap pemodal mereka, yang memicu kekerasan pada demo 4 November.

Ini termasuk tuntutan untuk penuntutan Buni Yani, dosen komunikasi, karena diduga telah menghasut kebencian setelah ia menyebarkan video Ahok mengucapkan dugaan penistaan agama dan meng-upload bagian dari yg diduga sebagai penistaan agama tersebut ke halaman Facebook-nya dengan judul yang provokatif.

Video berisi rekaman dimana Ahok berbicara kepada warga dan pejabat kota di Kepulauan Seribu tentang hak suara. Ahok mengutip Surat Al-Maidah, ayat 51 dari Quran, yang telah sering digunakan oleh para politisi untuk mencegah pemilih Muslim dari pemilihan calon pemimpin non-Muslim.

Berbagai politisi yang telah bermain-main dengan sentimen keagamaan dengan menggunakan isu-isu yang berkaitan dengan Ahok untuk keuntungan mereka, tidak akan mungkin meninggalkan keluar dari loop tersebut. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah orang yang menarik perhatian bagi Jokowi.

Anak dari SBY, Agus Harimurti, bersaing dengan Ahok dalam pemilihan gubernur Jakarta dan SBY secara terbuka berusaha untuk mengikis peluang Ahok memenangkan persaingan dengan melakukan intervensi yang tidak bertanggung jawab ke dalam sebuah kehebohan dimana Ahok dihadapkan pada kasus penistaan agama, juga menuntut sidang bagi Ahok dimana ucapan SBY tersebut mengandung makna provokasi.

Ketiga, status tersangka benar-benar akan memberikan keuntungan bagi kubu Ahok dimana beberapa bagian dari masyarakat akan menganggap dia sebagai korban gugurnya keadilan dan ini akan mengumpulkan lebih banyak dukungan baginya dalam Pilkada. Menggunakan sentimen agama untuk pemilihan pemimpin tidak dapat berlaku di Jakarta ditandai dengan fakta bahwa demo tanggal 4 November kemarin benar-benar didominasi oleh peserta dari luar ibukota.

Keempat, status Ahok sebagai tersangka telah membuktikan kepada publik bahwa Jokowi tidak melindungi Ahok dimana Presiden telah mengambil langkah sesuai dengan tuntutan umat Islam konservatif.

Bagaimana bisa seorang Jokowi yang dibesarkan di lingkungan sekuler di Surakarta, Jawa Tengah, dimana mistik Jawa berkeliaran di mana-mana, kemudian kembali untuk mencegah Ahok terjatuh dari tebing?

Proses penuntutan Ahok akan menjadi salah satu persoalan yang rumit, dan bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membawa kasus ini ke final dan mengikat secara hukum. Bahkan setelah POLRI melakukan proses penyelidikan, kasus tersebut harus diproses oleh Kejaksaan Agung, yang dipimpin oleh seorang politisi senior dari Partai NasDem, anggota koalisi Jokowi dan partai pertama yang mendukung Ahok sebagai calon gubernur.

Tapi meskipun dirudung berbagai masalah, Jokowi selayaknya mengklaim kemenangan karena sekarang ia dapat mengidentifikasi siapa yang menjadi teman dan siapa musuhnya di dalam pemerintahan dan koalisinya, mempersiapkannya untuk “membersihkan” lawan-lawannya dan mendapatkan lebih banyak dukungan dari Muslim konservatif, satu-satunya kelompok yang minim dukungan terhadap Jokowi.

Sumber: Jakartapost.com

KOMENTAR KAMU

Komentar

YUK BERBAGI, BIAR SEMUA ORANG DOYAN BACA

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

'